SURABAYA — Sebanyak 657 mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Di balik toga yang dikenakan dan senyum kebahagiaan yang terpancar, tersimpan perjalanan panjang tentang perjuangan, konsistensi, keraguan, serta dukungan orang-orang terdekat yang mengantarkan para lulusan hingga ke titik tersebut.
Wisuda bukan sekadar seremoni penyerahan gelar akademik. Bagi para lulusan, momen ini menandai berakhirnya satu fase kehidupan sekaligus menjadi awal perjalanan baru setelah meninggalkan bangku kuliah. Kebahagiaan atas pencapaian akademik berpadu dengan harapan dan tantangan untuk menghadapi kehidupan setelah perguruan tinggi.
Di antara ratusan mahasiswa yang diwisuda, kisah para wisudawan terbaik memperlihatkan bahwa pencapaian akademik memiliki proses yang berbeda-beda. Di balik angka indeks prestasi kumulatif (IPK), terdapat usaha untuk tetap konsisten, keberanian menghadapi keraguan, serta dukungan orang-orang yang menemani perjalanan perkuliahan.
Salah satunya adalah Clarissa Diva Larasati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen, yang meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,88. Bagi Clarissa, pencapaian tersebut menghadirkan kebahagiaan sekaligus semangat untuk memberikan kontribusi lebih besar pada masa mendatang.
“Tips dari aku, nikmati saja prosesnya dan jangan terlalu memikirkan hasil akhirnya. Kalian nikmati prosesnya, tetapi tetap harus konsisten dalam segala keadaan,” ungkap Clarissa.
Menurutnya, konsistensi menjadi hal penting selama menjalani perkuliahan, termasuk ketika menghadapi keadaan sulit maupun menyedihkan. Ia menilai bahwa kemajuan tidak harus selalu besar setiap hari, selama mahasiswa tetap berusaha dan tidak berhenti melangkah.
Pencapaian Clarissa juga tidak terlepas dari dukungan orang-orang terdekat. Ia menyebut teman dekatnya, Dev Michael dan Indira Putri, sebagai sosok yang memberikan dukungan selama perjalanan tersebut. Rasa terima kasih juga ia sampaikan kepada teman-teman dan orang tua yang telah mendampinginya.
“Terima kasih banget, karena tanpa kalian aku enggak akan berada di titik ini,” tuturnya.
Cerita berbeda datang dari Pamela Aprilia Permana, wisudawan terbaik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Perpustakaan dengan IPK 3,85. Ia mengaku tidak menyangka dapat meraih predikat tersebut karena melihat persaingan di lingkungan fakultasnya cukup ketat. Menurut Pamela, mahasiswa FISIP memiliki beragam aktivitas, mulai dari bidang politik hingga seni dan sosial.
Ketika mengetahui pencapaiannya, Pamela sempat mempertanyakan apakah dirinya pantas mendapatkan predikat tersebut. Ia merasa mahasiswa lain juga memiliki kemampuan dan prestasi yang membanggakan. Namun, kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi dorongan untuk lebih menghargai kemampuan diri sendiri.
“Awalnya merasa kayak, ‘Loh, emang aku pantas?’ Karena aku merasa dibanding sama anak-anak lain, aku enggak ada apa-apanya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Pamela belajar untuk lebih percaya diri dan tidak terus-menerus meragukan dirinya sendiri. Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap program studi Perpustakaan yang menurutnya kerap dipandang sebelah mata.
“Sekarang Perpus yang punya masa berprestasinya, jadi hidup Perpus!” ungkapnya penuh semangat.
Kepada mahasiswa baru dan mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan, Pamela berpesan agar lebih disiplin dalam mengikuti kegiatan akademik. Ia mengingatkan pentingnya menghadiri kelas, memperhatikan penjelasan dosen, serta menyelesaikan tugas jauh sebelum tenggat waktu.
Menariknya, Pamela juga mengakui bahwa dirinya pernah bolos kelas. Pengalaman tersebut membuat pesannya terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa sehari-hari. Baginya, kebiasaan sederhana seperti rajin masuk kelas, mengerjakan tugas tepat waktu, dan menghormati dosen merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Kisah Clarissa dan Pamela menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak selalu lahir dari perjalanan yang sama. Clarissa menekankan pentingnya menikmati proses dan menjaga konsistensi, sedangkan Pamela memperlihatkan bagaimana kepercayaan terhadap diri sendiri dapat tumbuh ketika seseorang berani menerima pencapaiannya.
Namun, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih luas: apakah gelar akademik telah cukup mempersiapkan lulusan menghadapi persaingan dunia kerja?
Keberhasilan Lulusan Tak Cukup Diukur dari Angka
Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati, M.Si., menyampaikan bahwa jumlah lulusan menjadi salah satu gambaran keberhasilan proses pendidikan di perguruan tinggi. Namun, menurutnya, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana para lulusan dapat diterima dan berkiprah di dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
“Apakah mereka itu lulus kemudian mereka bisa diterima? Indikator keberhasilan dari lulusan itu adalah pernyataan dari orang lain,” ungkap Nugrahini dalam wawancara mengenai evaluasi keberhasilan lulusan UWKS.
Dalam wawancara tersebut, Nugrahini menyampaikan bahwa pihak Atase Pendidikan memberikan informasi mengenai kiprah lulusan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang bekerja di Timor-Leste. Ia juga menyoroti salah satu alumni Fakultas Kedokteran UWKS, Dr. Élia António de Araújo dos Reis Amaral, yang menjabat sebagai Menteri Kesehatan Timor-Leste untuk periode 2023–2028. Informasi mengenai riwayat pendidikan dan jabatan tersebut juga tercantum dalam publikasi resmi Fakultas Kedokteran UWKS.
Selain kiprah alumni di Timor-Leste, Nugrahini menyinggung seorang lulusan bernama Yusril yang berangkat ke Jepang untuk mencari peluang kerja. Menurut penuturannya, Yusril ingin memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapannya dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan lulusan UWKS tidak berhenti ketika mereka menerima ijazah. Sebagian alumni berkiprah di negara asal, sementara sebagian lainnya mencari kesempatan di luar negeri.
Meski demikian, keberadaan alumni yang bekerja di luar negeri belum cukup untuk menggambarkan kondisi seluruh lulusan. Evaluasi yang menyeluruh tetap membutuhkan data mengenai jumlah alumni yang telah bekerja, kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi, serta waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus.
Pertanyaan mengenai langkah konkret universitas untuk memastikan daya saing lulusan pun menjadi hal penting. Persaingan kerja dan kemungkinan ketidaksesuaian antara kompetensi akademik dengan kebutuhan industri merupakan tantangan yang perlu dijawab melalui evaluasi pendidikan secara berkelanjutan.
Dalam wawancara tersebut, rektor menekankan pentingnya penerimaan dan pengakuan terhadap lulusan sebagai indikator keberhasilan. Namun, jawaban yang disampaikan belum merinci program khusus yang dijalankan UWKS untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, aspek tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak universitas.
Setelah Toga, Perjalanan Baru Dimulai
Keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan banyaknya mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga dengan bagaimana ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dan memberikan manfaat setelah mereka meninggalkan kampus.
Bagi 657 mahasiswa yang diwisuda pada 17 Oktober 2026, hari itu menjadi penanda berakhirnya satu perjalanan panjang. Toga yang dikenakan menjadi simbol pencapaian, sedangkan kisah di baliknya mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki proses, tantangan, dan dukungan yang berbeda.
Di satu sisi, pencapaian para wisudawan terbaik memperlihatkan hasil dari konsistensi dan usaha selama menjalani perkuliahan. Di sisi lain, pertanyaan mengenai kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan tinggi tidak berhenti pada kelulusan.
Hari ini, mereka menutup satu bab kehidupan sebagai mahasiswa. Esok, mereka menghadapi perjalanan baru yang menuntut keberanian, konsistensi, dan kemampuan untuk terus belajar.
Sebab, wisuda bukanlah akhir dari perjuangan. Gelar akademik menjadi bekal untuk melangkah, sementara bagaimana para lulusan menerapkan ilmu dan berkontribusi bagi masyarakat akan menjadi bagian penting dari perjalanan mereka selanjutnya.
Editor: Muhammad Daffa Akbar













