Memuat...

  • 27 Oct, 2026

Sejarah Terbentuknya UKM Aktual yang Turut Jadi Saksi Dalam Tumbangnya Orde Baru

Sejarah Terbentuknya UKM Aktual yang Turut Jadi Saksi Dalam Tumbangnya Orde Baru

Ilustrasi: Kolase/Grafis Orde Baru

 

SURABAYA - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Aktual (Aksi Kaum Intelektual) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) ternyata menyimpan rekam jejak sejarah yang kaitannya sangat erat dengan pergerakan pro-demokrasi. Pasalnya, organisasi yang didirikan di tengah gejolak peta politik nasional di pertengahan tahun 1997 ini sejak awal memang didirikan untuk menjadi wadah diskusi keilmuwan dan pengawalan dalam pergerakan mahasiswa UWKS. Aktual juga menjadi saksi penting dalam momentum tumbangnya rezim orde baru. 

Awal Berdiri dan Diskusi Perdana 
Berdasarkan dokumen catatan sejarah yang ditulis oleh Dila (FH'94), Aktual awalnya dibentuk pada pertengahan tahun 1997 sebagai sub-organisasi mahasiswa ekstra kampus PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Sekretariat UWKS. Pada masa perintisan tersebut, Saiful Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) angkatan tahun 1993 ini bertindak sebagai ketua dan Nasiruddin Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 1993 sebagai sekretaris, sebelum akhirnya hasil rapat forum menunjuk Dila (FH) angkatan 1994 sebagai ketua. 

Aktual sendiri dirancang untuk mengasah kekritisan dan wawasan mahasiswa melalui forum diskusi mengenai berbagai fenomena sosial, politik, dan agama yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Diskusi pertama yang diselenggarakan oleh Aktual mengangkat tema Gender dalam Perspektif Islam, yang diawali dengan lomba karya tulis ilmiah. Pada saat bersamaan, iklim pergerakan di UWKS juga diwarnai oleh organisasi ekstra kampus lain seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi).  

Memanasnya Gelombang Reformasi dan Aksi AWKPR 
Ketika gelombang kritik terhadap pemerintahan Orde Baru semakin memanas, kawan-kawan dari berbagai organisasi yang memiliki kesamaan visi membentuk Arek Wijaya Kusuma Pro Demokrasi (AWKPR) dengan Rio Marpaung (FISIP) sebagai koordinatornya.  

Melalui AWKPR inilah, aksi pergerakan mahasiswa dilakukan secara terang-terangan. Berbagai bentuk aksi akhirnya dilancarkan, mulai dari penyebaran selebaran, pemasangan spanduk dan poster, aksi turun ke jalan, hingga pendirian tenda keprihatinan di Lobby D UWKS dan melaksanakan aksi mogok bicara dan juga mogok makan. Gerakan ini sempat mendapat tekanan dari pihak rektorat dan sebagian dosen yang menganggap organisasi ekstra tidak berizin menduduki Lobby D.  

Pelahiran Kembali Aktual Menjadi Organisasi Independen 
Meskipun simpatisan AWKPR terus bertambah, muncul kendala berupa beragamnya pemahaman massa terkait visi pergerakan demokrasi. Beberapa kawan akhirnya mengusulkan untuk membentuk forum diskusi independen yang ditujukan untuk mengisi kekosongan pemahaman ideologis tersebut. 

Aktual kemudian disepakati untuk dilahirkan kembali sebagai organisasi independen yang terlepas dari PMII agar dapat merangkul mahasiswa secara lebih luas. Dalam formasi anyar Aktual Independen, Wawan (FH'95) ditunjuk sebagai koordinator dan Dila sebagai sekretaris, dengan anggota di antaranya Astutik (FISIP'97), Heru (FISIP'96), Koko (FK'94), Edi (FT'96), dan Joko (FT'94). Agenda utamanya meliputi diskusi terbuka di Lobby D, bedah buku, pameran buku dan foto, serta penyebaran selebaran berkala.  

Detik-Detik Reformasi dan Taktik "Berjuang di Dalam Sistem" 
Menjelang pengunduran diri Presiden Soeharto, gelombang aksi melibatkan hampir seluruh elemen kampus, termasuk jajaran rektorat dan Senat Mahasiswa. Dalam perkembangannya, AWKPR kemudian berganti nama menjadi Komite Perjuangan Pro Demokrasi (KPD).  

Lalu pada akhir tahun 1999, pihak rektorat tiba-tiba menawarkan agar KPD dijadikan organisasi intra kampus. Namun, tawaran itu ditolak demi menjaga independensi dan daya kritis pergerakan. Sebagai gantinya, diusulkan agar Aktual yang masuk menjadi organisasi intra kampus karena lingkup kerjanya yang berfokus pada diskusi dan keilmuan memiliki potensi konflik ideologi yang lebih kecil dengan rektorat.  

Dengan kesepakatan untuk tetap konsisten pada nilai demokrasi tanpa kompromi, Aktual akhirnya resmi melangkah sebagai organisasi resmi kampus dengan semangat "Berjuang di dalam Sistem". Pada kepengurusan periode intra kampus (Formasi ke-II) tersebut, Lasiono dipercaya menjabat sebagai koordinator bersama Astutik dan kawan-kawan.   

Kini, jejak perjalanan UKM Aktual menjadi bukti nyata bagaimana sebuah forum diskusi sederhana mampu berkembang menjadi motor penggerak pemikiran kritis mahasiswa di era Reformasi. Keputusan untuk melangkah ke dalam jalur resmi kampus bukan berarti meluruhkan daya kritis, melainkan menjadi langkah strategis untuk terus merawat ideologi kecintaan akan kebenaran dan kebebasan berpikir langsung dari dalam sistem hingga hari ini. 

SALAM PRODUKTIF!! 

Ardian Reza Pahlevi

Ardian Reza Pahlevi

never forget these three words! please, sorry, thank you