Memuat...

  • 02 Jun, 2026

Youth Influencer Jatim 2026 Siap Jadi Garda Terdepan Tangkal Hoaks dan Konten Sensasional

Youth Influencer Jatim 2026 Siap Jadi Garda Terdepan Tangkal Hoaks dan Konten Sensasional

Malam puncak Youth Influencer Jawa Timur 2026 yang digelar di Auditorium Politeknik Kesehatan Surabaya, Foto: Istimewa

 

Surabaya — Kompetisi Youth Influencer Jawa Timur 2026 menjadi ajang pembuktian bahwa media sosial tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi, advokasi, dan perubahan sosial bagi generasi muda. Di tengah maraknya konten sensasional dan penyebaran hoaks di media sosial, kegiatan ini hadir membawa wajah berbeda dengan mempertemukan anak-anak muda kreatif yang memiliki visi memberikan dampak positif melalui dunia digital. Puncak pemilihan yang digelar di Auditorium Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Surabaya pada Minggu (17/05/2026) ini dihadiri oleh peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Gelar Winner Youth Influencer Wanita 2026 diraih oleh Asa Anya Diani. Dalam wawancaranya, Asa mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya tersebut. Ia menyebut keberhasilannya bukan hanya hasil kerja keras pribadi, melainkan dukungan dari orang tua, keluarga, guru, dosen, hingga teman-temannya di Institut Kesehatan Poltekkes Malang.

“Saya sangat merasa bersyukur telah menjadi juara satu. Saya di sini tidak sendiri, tetapi juga mewakili orang tua, keluarga, guru, dan dosen saya di Institut Kesehatan Poltekkes Malang. Saya juga berdiri di sini berkat teman-teman saya,” ujarnya.

Asa juga menjelaskan bahwa dirinya telah menjalankan program advokasi ruang baca di panti asuhan selama satu tahun terakhir. Menurutnya, kemenangan tersebut menjadi motivasi untuk terus bekerja keras serta memperluas jaringan agar kegiatan sosial yang dilakukannya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Sementara itu, Direktur Youth Influencer Jawa Timur, Elzi Aurelia Fahmi, menjelaskan bahwa komunitas tersebut awalnya hanyalah kelompok kecil yang bergerak di lingkungan panti asuhan untuk kegiatan mengajar. Namun seiring berjalannya waktu, komunitas itu berkembang menjadi paguyuban anak muda yang fokus pada dunia konten kreator dan media sosial.

“Untuk ikut Influencer Youth tidak ada kriteria tertentu, yang penting memiliki minat dan maksimal usia 23 tahun,” jelas Elzi. Ia berharap anggota paguyuban dapat menjalankan berbagai program kerja yang telah disiapkan, seperti membuat konten kreatif, mengembangkan media sosial, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. Dalam keterangannya, pihak Diskominfo menilai bahwa keberadaan youth influencer dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah, terutama dalam penyebaran informasi yang benar di tengah maraknya hoaks di media sosial.

“Influencer youth diharapkan dapat menjadi penetral informasi hoaks dan menyebarkan informasi yang sebenar-benarnya agar masyarakat tidak terbodohi oleh berita palsu,” ungkap perwakilan Diskominfo Jawa Timur.

Founder Youth Influencer Jawa Timur, Aghil, yang juga merupakan mahasiswa semester enam Poltekkes, menuturkan bahwa organisasi tersebut lahir dari keresahannya melihat anak muda yang membutuhkan wadah pengembangan diri. Ia menjelaskan bahwa Youth Influencer Jawa Timur berfokus pada tiga bidang utama, yakni keilmuan, digital, dan UMKM.

Menurutnya, fokus pada bidang digital penting agar generasi muda lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Aghil menyebut komunitas tersebut mulai dibangun sejak akhir tahun 2025 dari kelompok kecil hingga akhirnya berkembang dan membuka kesempatan bagi anak muda di seluruh Jawa Timur.

“Di masa banyak influencer yang mengarah ke arah yang salah, saya berharap bagian dari Influencer Youth tidak terjatuh ke arah situ,” ujarnya.

Pada kategori pria, gelar Winner Youth Influencer Pria 2026 diraih oleh Hildan dari Universitas Wiraraja Sumenep. Ia mengaku perjuangannya mengikuti kompetisi tidak mudah karena harus bolak-balik Surabaya–Sumenep demi mempersiapkan diri mengikuti rangkaian seleksi.

“Perjuangannya menurut saya luar biasa, dan malam ini saya merasa semua itu terbayarkan,” katanya.

Hildan menjelaskan bahwa dia menemukan pamflet kompetisi youth pada pertengahan bulan April, dari situ dirinya mulai mengasah kemampuan public speaking dan mental agar dapat menunjukkan kemampuan berbicaranya dengan baik dan menghindari rasa gugup.Ia menilai seorang influencer tidak hanya harus mampu berbicara di depan publik, tetapi juga memberikan aksi nyata yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Melalui kompetisi ini, Youth Influencer Jawa Timur 2026 tidak hanya menjadi ajang pencarian popularitas di media sosial, tetapi juga ruang lahirnya generasi muda yang kreatif, kritis, dan memiliki kepedulian sosial di tengah perkembangan era digital.