Penampilan bentuk kekecewaan dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Negeri Airlangga (UNAIR), Foto: Maharani Aulia Rahmawati
Surabaya, 24 Maret 2025 – Aksi demonstrasi penolakan Undang-Undang (UU) TNI di depan Gedung Grahadi, Surabaya, yang dimulai pukul 13.00 WIB, Senin (24/3/2025), berakhir ricuh.
Aksi yang awalnya berjalan damai dengan orasi dan penampilan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah, berujung bentrok antara demonstran dan aparat keamanan. Sekitar 130 mahasiswa gabungan dari BEM Nusantara (UWKS, UBARA, UNTAG, dan UNUSA) turut serta dalam demonstrasi ini.
Presiden Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Bayu Budi Dermawan, menyatakan aksi awalnya berjalan lancar sesuai rencana. "Tujuan demo hari ini adalah penolakan RUU TNI dengan harapan adanya judical review" ujarnya. Meskipun ada isu lain seperti revisi RUU POLRI dan RUU KEJAKSAAN,namun mahasiswa memilih fokus pada RUU TNI.
Salah satu peserta demo dari Fisip Antropologi UNAIR bernama Putra mengungkapkan, kekhawatirannya terhadap potensi kembalinya Orde Baru merupakan alasan keikutsertaannya dalam aksi demo ini. Ia dan rekan-rekannya dari Universitas Airlangga membawa delapan tuntutan, termasuk penolakan perluasan fungsi TNI dalam ranah sipil, pembubaran Komando Teritorial, dan pencopotan TNI aktif dari jabatan sipil.
Namun, situasi berubah drastis pada pukul 16.22 WIB. Lemparan molotov dari arah massa memicu reaksi aparat. Klakson mobil water cannon terdengar beberapa kali sebagai peringatan sebelum akhirnya water cannon ditembakkan ke arah demonstran. Teriakan dan kepanikan terjadi saat massa terdorong mundur. Kericuhan berlangsung hingga menjelang Maghrib sebelum akhirnya mereda.
AKTUAL, SALAM PRODUKTIF!!
Editor: Ardian Reza Pahlevi






















