Memuat...

  • 13 May, 2026

Di Balik Gemerlap Wisuda: Realitas Lulusan Tak Selalu Semegah Seremoni

Di Balik Gemerlap Wisuda: Realitas Lulusan Tak Selalu Semegah Seremoni

Foto berlangsungnya proses Wisuda Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, pada Sabtu (09/05/2026), Foto: Muhammad Daffa Akbar

SURABAYA — Prosesi wisuda Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) tidak hanya menjadi ruang selebrasi akademik, tetapi juga menggambarkan tekanan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif. Wisuda yang dilaksanakan di Bangsal Pancasila pada Sabtu (9/5/2026) berjalan dengan khidmat hingga acara selesai.

Tepuk tangan memenuhi ruang wisuda saat nama-nama wisudawan terbaik diumumkan. Gelar akademik, indeks prestasi tinggi, dan penghargaan menjadi simbol keberhasilan yang dirayakan dalam prosesi tersebut. Namun, di balik seremoni itu, lulusan masa kini dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan tambahan untuk bertahan dan bersaing.

Wisudawan terbaik Fakultas Kedokteran UWKS, Johanes Aprilius Falerio Kristijanto, S.Ked., mengatakan pencapaian akademiknya merupakan hasil proses panjang yang melibatkan dukungan keluarga, dosen, dan teman-teman seperjuangan.

“Menjadi wisudawan terbaik itu proses yang cukup panjang dan melibatkan banyak pihak,” ujarnya.

Johanes mengaku banyak mendapat dukungan dari lingkungan akademik, khususnya dalam bidang penelitian. Ketertarikannya terhadap dunia riset membuatnya terinspirasi oleh Anthony Fauci, ilmuwan kesehatan masyarakat asal Amerika Serikat yang dikenal melalui penelitian epidemiologi dan kesehatan publik.

Menurut Johanes, mahasiswa saat ini tidak bisa hanya mengandalkan pembelajaran formal di kampus. Ia menilai mahasiswa perlu aktif mengembangkan kemampuan secara mandiri melalui berbagai sumber digital.

“Jangan hanya mengandalkan kuliah. Eksplor dunia menggunakan Google, YouTube, dan AI untuk meningkatkan value diri kita,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ruang kelas kini bukan lagi satu-satunya sumber pengembangan kompetensi mahasiswa. Selain kemampuan akademik, lulusan juga dituntut memiliki keterampilan komunikasi, adaptasi, pengalaman organisasi, dan kemampuan berpikir kritis.

Hal serupa disampaikan wisudawati terbaik Fakultas Hukum UWKS, Gabriel Vioni Dewi, S.H. Ia menilai pengalaman organisasi menjadi salah satu proses penting dalam membentuk kemampuan bekerja sama dan empati sosial.

Selama menempuh pendidikan, Gabriel aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara. Menurutnya, pengalaman organisasi membantu dirinya belajar menyelesaikan masalah dan bekerja dalam tim.

“Dari organisasi itu saya belajar bekerja sama dan menghadapi berbagai persoalan bersama tim,” ujarnya.

Fenomena tersebut menjadi refleksi bagi dunia pendidikan tinggi. Perguruan tinggi dinilai tidak lagi cukup hanya berorientasi pada capaian akademik dan kelulusan, tetapi juga perlu menyediakan ruang pengembangan keterampilan praktis, riset, organisasi, serta kemampuan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Di sisi lain, tidak semua mahasiswa memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. Tekanan ekonomi, keterbatasan fasilitas, hingga budaya pendidikan yang masih berorientasi pada capaian administratif menjadi tantangan yang dihadapi sebagian mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Wisuda pun tidak lagi sekadar menjadi simbol kelulusan, melainkan penanda dimulainya fase baru yang penuh tantangan. Setelah prosesi selesai, lulusan akan menghadapi realitas dunia kerja yang menuntut kemampuan beradaptasi dan pengembangan diri secara berkelanjutan.

Karena itu, momentum wisuda dinilai perlu menjadi ruang refleksi mengenai sejauh mana pendidikan tinggi mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan setelah kampus. Sebab, tantangan terbesar lulusan saat ini bukan hanya memperoleh gelar sarjana, tetapi juga mempertahankan kualitas diri di tengah perubahan zaman dan persaingan yang terus berkembang.

 

Editor: Chelsea Indriani